Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

CAMELIA MALIK CERAI: Pengadilan Enggan Beberkan Alasan Gugatan

Ismail Fahmi   -   Minggu, 05 Mei 2013, 13:17 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Pengadilan Agama  Jakarta Selatan masih belum mau membeberkan alasan gugatan cerai artis lawas Camelia Malik kepada suaminya Harry Nurmaizir alias Harry Capri.

"Saya belum dapat memberitahukan isi dari gugatan tersebut. Yang pasti gugatan permohonan perceraian itu memang ada," ujar Humas PA Jakarta Selatan, Ida Noorsaadah di Jakarta, Minggu (5/5).

Camelia Malik telah mengajukan pada 30 April 2013. Perkara itu tercatat di nomor 1137/Pdt.G/2013/PA.JS.

Ida juga tidak mau mengungkapkan apakah ada gugatan lainnya dari Camelia Malik selain gugatan cerai.

"Yang saya tahu gugatan cerai saja, faktor penyebabnya belum dapat dibertahukan secara detail. Untuk gugatan lainnya saya belum tahu," tegasnya.

Ida menambahkan sidang perdana permohonan cerai Camelia Malik akan digelar pada 23 Mei mendatang. "Sidangnya 23 Mei. Agendanya seperti biasa, mediasi terlebih dahulu," pungkasnya.

Camelia  menikah dengan Harry Capri pada medio Mei 1989 atas saran Rhoma Irama. Ketika itu, Raja Dangdut ini juga menjadi wali nikah Camelia. Dari pernikahan itu, Camelia dan Harry dikaruniai dua anak.

Sebelum dinikahi Harry, Camelia pernah menikah dengan Reynold Panggabean, salah satu personel Band The Mercy's. Namun, pernikahan tersebut kandas pada 2 Maret 1989 setelah bertahan selama 12 tahun.  (if)


Source : Wahyu Kurniawan/JIBI

Editor : Ismail Fahmi

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER